Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Sudut pandang penerapan aturan agama dalam negara Bhinneka Tunggal Ika NKRI (Oleh : Ronny Leung)

Gambar
Sudut pandang penerapan aturan agama dalam negara Bhinneka Tunggal Ika NKRI Beberapa waktu ini saya membaca beberapa postingan dan koment dari beberapa media massa dan media sosial. Akhirnya saya telaah beberapa tausyiah dari Gus Mus, Prof Quraih Shihab,Kyai Said, Buya Syafei Maarif dan tentunya alm. Gus Dur saya menarik sebuah kesimpulan. Apakah salah dengan hukum agama ? Tidak ada yang salah, kalau kita memeluk agama dan kita mempersalahkan hukum itu berarti sebuah kontradiksi, bahkan sekelas Gus Dur, Kyai Said,Buya Syafii, Romo Magnis, dll selalu memakai patokan ajaran agama dalam hidup dan ajarannya. Lalu kenapa tdk diterapkan hukum agama secara mutlak di negara ini ? Bayangkan bila hukum agama di terapkan mutlak di negara dgn 13.000 pulau, 200an suku dan puluhan agama yg berbeda, kita pergi ke Jakarta beda hukum,pergi ke Bali beda hukum lagi,ke Ambon beda hukum dll bayangkan bila orang Bali dihukum di Aceh, orang Jombang dihukum di papua berapa banyak patokan hukum p

6 Prinsip Bela Negara Atas Pemahaman Sejarah (Oleh : Ayah Debay)

Gambar
6 Prinsip Bela Negara Atas Pemahaman Sejarah Bangsa Oleh : Ayah Debay (Admin Grup Sahabat Gus Dur) 6 Prinsip Bela Negara Motivasi dalam membela negara merupakan salah satu upaya yang akan tumbuh dari diri seseorang untuk selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat negara di dalam kehidupannya dan di mata dunia. Untuk menjalankan motivasi bela negara diperlukan hakikat niat yang kokoh dengan menerapkan konsep hidup hanya untuk membela negara melalui pendidikan, kekuatan, dan hati nurani. Melalui pendidikan, setiap individu bisa melaksanakan kaulitas pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi dan menerapkan sistem pendidikan untuk merubah generasi bangsa menjadi lebih baik dan lebih maju lagi. Bela negara bisa melalui kekuatan dengan ikut berperang melawan musuh jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk kekuatan, nagara sudah ada tentara, polisi dan pasukan yang siap untuk membela negara dari serangan musuh. Melalui hati nurani dalam membela negara adalah selalu sadar di

Kajian Tentang Toleransi Dalam Islam (Oleh : Amiruddin Faisal)

Gambar
Kajian Tentang Toleransi Dalam Islam (Oleh : Amiruddin Faisal, Admin Sahabat Gus Dur) Ada sebuah prinsip yang selalu dikumandangkan oleh mereka yang meneriakkan kebesaran Islam: “Islam itu unggul, dan tidak dapat diungguli“ (Al-Islam Ya’iu wala Yu’la Alahi).  Dengan pemahaman mereka sendiri, lalu mereka menolak apa yang dianggap sebagai “kekerdilan” Islam dan kejayaan orang lain. Mereka lalu menolak peradaban-peradaban lain dan menyerukan sikap “mengunggulkan “ Islam secara doktriner.  Pendekatan doktriner seperti itu berarti pemujaan Islam terhadap “keunggulan” teknis peradaban-peradaban lain. Dari sinilah lahir semacam klaim kebesaran Islam dan kerendahan peradaban lain, karena memandang Islam secara berlebihan dan memandang peradaban lain lebih rendah. Dari “keangkuhan budaya” seperti itu, lahirlah sikap otoriter yang hanya membenarkan diri sendiri dan menggangap orang atau peradaban lain sebagai yang bersalah atas kemunduran peradaban lain. Akibat dari pandangan itu, segala ma

Sebuah Kajian Singkat Tentang Islam Di Indonesia (Oleh :Amiruddin Faisal,Admin SGD)

Gambar
Sebuah Kajian Singkat Tentang Islam Di Indonesia  Oleh :Amiruddin Faisal,Admin SGD Manusia hari ini sudah tidak di kategorikan sebagai manusia lagi tetapi sebagai suatu nilai nominal matematik atau angka. Islam itu something dan Muslim itu something other sebagaimana islam adalah sesuatu dan orang Muslim nusantara adalah sesuatu yang lain atau berbeda Masihkah kita melihat Indonesia dan Nusantara 30 – 50 tahun yang akan datang? Secara biologis mungkin iya tetapi secara ideologinya dimana? Ini bukan kalimat pesimis tapi ini adalah suatu hal yang memicu nalar kita untuk membangun suatu optimisme bahwa kalau bukan sekarang kapan lagi yang dimana kita sebagai orang yang mengaku lahir dari tanah air Kita ini”. “Sejak Rasulullah SAW Wafat, selama tiga hari tiga malam, itu Rasulullah SAW belum di semayamkan, sementara Abu Bakar sibuk berdiskusi, bermusyawarah tentang tata cara teknis pemilihan pemimpin. Rasulullah SAW tidak meninggalkan satu tekspun tentang tata cara pemilihan pe

Ksatria dan Jelata (Oleh : MH Nurul Huda, pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia)

Gambar
Ksatria dan Jelata Sejarah, kata banyak orang, adalah perjalanan yang penuh misteri. Siapa dapat menyingkap misterinya ia berpotensi mengenali kemungkinan arahnya. Lebih jauh ia juga dapat turut serta mempengaruhi momen demi momen jalannya sejarah, kalau pun bukan hasil akhirnya secara sempurna. Maka tak heran bila kemudian para pemikir, ilmuwan sosial, sejarahwan, dan lain-lainnya berusaha menyingkap teka-teki itu. Dengan spirit “menciptakan sebuah dunia yang lebih baik” ( to create a better world ) atau “mengubah nasib suatu kaum”, mereka berupaya mendeteksi ritme tertentu di kacau-balaunya sejarah. Mereka juga bekerja keras untuk menemukan harmoni, keselarasan-keselarasan, yang ada di dalamnya seturut dengan hukum alam. Dalam hal ini, penulis sependapat dengan sejumlah rekan dan sahabat yang mengatakan bahwa proses sejarah berakar pada spirit manusia. Mentalitas manusialah yang membuat suatu kaum, komunitas, atau masyarakat mampu mengubah keadaannya. Kekuatan mental itu pu

Gus Dur : 4 Sistem yang Bisa Tegakkan Masa Depan RI (Oleh : Ievyani Liebedich)

Gambar
KH Abdurrahman Wahid: 4 Sistem yang Bisa Tegakkan Masa Depan RI Ditulis ulang oleh : Ievyani Liebedich Ketua Dewan Syura Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB), Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur mengatakan, bangsa Indonesia saat ini mengalami masa sulit. Krisis multideminesi yang melanda, membuat negara kepulauan ini seakan kehilangan jatidirinya. Terlebih, pemerintahan di bawah kendali Presiden Megawati Taufik Kiemas, tak bisa diharapkan membawa perubahan signifikan. “Hanya 4 sistemn yang bisa menegakkan Indonesia di masa depan. Kalau sistem itu dilaksanakan dengan baik, bangsa ini pasti akan keluar dari kesulitan yang selama ini dihadapi,” kata Gus Dur, saat menjadi keynote speaker (pembicara) dalam acara diskusi panel dengan tajuk ‘Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan Pendidikan Unggulan’ yang digelar pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) T

Pekerjaan Rumah Dari Gus Dur (Oleh : Ievyani Liebedich)

Gambar
Pekerjaan Rumah dari Gus Dur. Oleh : Ievyani Liebedich Barang siapa yang menghina agama orang lain, ia menghina agamanya sendiri." Demikianlah pernyataan Gus Dur dalam iklan layanan masyarakat yang penulis buat pada saat beliau masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Pernyataan di atas terasa sederhana, namun merefleksikan kenegarawanan dalam beragam perspektif. Pertama, ketegasan kepemimpinan terhadap nilai pluralisme. Kedua, sikap tidak tawar-menawar melawan ekstremitas beragama yang menginginkan salah satu agama menjadi dasar negara. Ketiga, nilai beragama diletakkan dalam bentuknya yang paling dasar sekaligus mulia, yakni dalam tata nilai hubungan sehari-hari antarumat manusia. Sepeninggal Gus Dur, sesungguhnya pekerjaan rumah semacam apa yang ditinggalkannya? Daya hidup, tindakan, dan pikiran Gus Dur, sesungguhnya hidup dan menghidupi bangsa dari periode menurunnya kekuatan Soeharto hingga sepuluh tahun pasca-Reformasi. Pada dua periode ini, Gus

Pluralisme (Oleh : Ronny Leung)

Gambar
Pluralisme adalah suatu faham atau pengertian menerima perbedaan dalam suatu masyarakat majemuk, saling menghormati dan bertoleransi antar anggota masyarakat untuk mencapai tujuan bersama dalam hidup. Dalam sejarah dunia telah memberikan pelajaran berharga bahwa ajaran sekterianisme, pengelompokan telah membuat kesengsaraan dan peperangan dalam dunia.Kesejahteraan dan kedamaian yang diidam idamkan akan tercabik - cabik dalam kehidupan masyarakat yang majemuk. Peperangan karena agama, suku dan ras telah mengakibatkan penderitaan bagi umat manusia itu sendiri. Beberapa contoh peperangan karena faham sekterianisme adalah perang Rwanda (Suku Tutsi dan Hutu), Perang Ambon (Kristen  dan Islam), Perang Serbia - Bosnia, dll. Kenapa terjadi perang antar manusia ? Karena adanya kepentingan politik, kekuasaan, uang dan penguasaan wilayah. Sentimen agama, suku dan ras adalah komoditas murah meriah untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau golongan. Kaum marjinal diadu sedangkan kaum bor