Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Pluralisme Dalam Pandangan Islam (Oleh :Amiruddin Faisal)

Gambar
Dalam khazanah ke-nusantaraan kita dikenal istilah bhinneka tunggal ika. istilah ini untuk mendeskripsikan dan sebagai petunjuk bahwa para bapak dan ibu pendiri bangsa ini sadar akan keragaman bangsa indonesia ini. dalam istilah modern bhinneka (kemajemukan) ini kemudian sering diterjemahkan dengan pluralisme. dalam wacana modernitas,pluralisme merupakan bentuk kesadaran baru yang mulai mengubah paradigma lama yang monolitik dalam doktrin agama,sosial, politik dan lainnya yang ditumbuhkan untuk perdamaian dan kerjasama serta menghilangkan prasangka dan truth claim. sejarah mencatat bahwa akibat kurangnya kesadaran tersebut,beberapa konflik terus menghiasi arena panggung dunia ,khususnya di indonesia. Istilah pluralisme sendiri sebenarnya berasal dari bahasa latin : pluralis yang berarti jamak. lawan katanya adalah monisme,dualisme,atau uniter. pluralisme berarti suatu pandangan bahwa realitas itu tidak tunggal,tetapi berlapis secara independen dengan keutuhannya masing-masing. da

Akhlak (Oleh : Ronny Leung)

Gambar
Akhlak Kita mungkin sering mendengar tapi jarang terlihat di dunia yang makin renta ini. Sebuah pesan moral dan etika yang jarang dipertontonkan para petinggi negeri ini. Manusia sibuk bergulat dengan keinginan tubuhnya, nafsunya, ambisinya masing-masing, hampir jarang terlihat di dunia ini kesederhanaan,kelemahlembutan dan kerendahan hati. Akhlak Sebuah kata yang sering disebut Gus Dur,Gus Mus, Buya Syafii Maarif, Prof Quraish Shihab dll orang - orang yang saya ikuti baik tulisannya maupun ajarannya di dunia maya dan buku-buku terbitannya. Kenapa sih mereka mau berjibaku mengajarkan sesuatu yg tdk ada untungnya buat mereka sendiri ? Manusia sekarang cenderung mempelajari pemasaran, manajemen, teknologi dll yang menghasilkan uang shg akhlak terpinggirkan. Akhlak Ajaran moral dan etika, bagian dari budaya dan juga disebut dalam agama-agama di dunia ini dengan berbagai istilah. Sudah lupakah kita akan akhlak ini ? Pondasi kehidupan manusia ini ? itulah kenapa setiap har

Telaah Tentang Kebangkitan Nasional Indonesia (Oleh :Amiruddin Faisal)

Gambar
Kebangkitan nasionalisme kultural dewasa ini, dalam sejumlah kasus, tumbuh berbarengan dengan peningkatan sentimen etnisitas, bahkan sentimen keagamaan, yang pada gilirannya memunculkan nasionalisme politik yang amat kental. Seperti dikemukakan Nodia, nasionalisme ibarat satu koin yang mempunyai dua sisi. Sisi pertama adalah politik, dan sisi lainnya adalah etnik. Tidak ada nasionalisme tanpa elemen politik; tetapi substansinya tak bisa lain kecuali sentimen etnik. Hubungan elemen ini ibarat jiwa politik yang mengambil tubuhnya dalam etnisitas. Semua ini terlihat jelas melalui latar belakang kemunculan negara-negara di bekas Uni Soviet,Yugoslavia, Kurdistan, atau Eritrea, dan terakhir Kosovo. Nasionalisme yang muncul merupakan perpaduan sentimen etnisitas dan politik yang kemudian beramalgamasi dengan semangat keagamaan. Hasil dari perpaduan ini adalah nasionalisme yang sangat chauvinisme dan fasis, seperti terlihat jelas dalam kasus Serbia. John Naisbitt dalam buku, Global Paradox

Gus Mus Yang Sederhana (Oleh :Ronny Leung)

Gambar
Sederhana Tidak ada kesan mewah dan luks seperti rumah - rumah pembesar - pembesar negeri ini Perabotan sederhana sangatlah jauh dibandingkan kehidupan pejabat-pejabat bangsa ini Hidup yang sangat membumi Sangatlah beda dengan para pemimpin agama yg mengaku mempunyai surga Sangatlah beda dibandingkan dengan orang - orang yang menjual Tuhan demi materi Saya sangat takjub melihat kesederhanaan itu Saya sangat terkesima merasakan keramahannya, mulai dari Gus Mus, anak - mantu sampai santrinya tersenyum ramah dan menyapa Saya rasakan kedamaian dan persahabatan disana Manusia mencari harta dan kekayaan sampai melupakan kedamaian Manusia mencari jabatan sampai melupakan persaudaraan Manusia butuh dipuja meskipun tanpa ilmu Di tempat itu saya merasakan persahabatan,perdamaian dan org2 yang memiliki ilmu yg dalam Sebuah perjalanan singkat untuk merenung tentang hidup kita selama ini Terima kasih Gus Mus yang sederhana

Namanya Rizal Wijaya (Oleh :Ronny Leung)

Gambar
Perjalanan saya ke acara haul, almarhumah Nyai Siti Fatma di Leteh, Rembang 8 Agustus 2016 juga memberikan sebuah kesan lain. Seorang yang hilir mudik membawa kamera, mendokumentasikan setiap acara dan tamu yang hadir. Seorang yang ramah, selalu menyapa saya ketika berpapasan. Sangat ramah pembawaannya. Memang hampir semua orang mulai dari keluarga Gus Mus sampai santrinya adalah sosok-sosok yang ramah dan mudah bergaul bahkan dalam beberapa jam saya disana sudah memiliki teman dan bertukar nomer handphone tapi entah kenapa sosok satu ini sangat berkesan bagi saya, apa karena kerja kerasnya ikut menata tenda,mendokumentasikan setiap moment ataukan moment dimana dia dipijat rekannya di balai-balai bambu depan rumah Gus Mus karena kecapekan. Namanya Rizal Wijaya, mantu keenam dari Gus Mus. Sosok yang sangat ramah, cakap dan pekerja keras. Terima kasih banyak untuk sambutan hangatnya. Semoga menjadi sosok teladan bagi negeri plural ini meneruskan ajaran Gus Mus. Malam itu saya be

Bertemu Gus Mus, Sebuah Kesan yang Dalam (Oleh : Ronny Leung)

Gambar
Bertemu Gus Mus, Sebuah Kesan yang Dalam (Oleh : Ronny Leung) 8 Agustus 2016 Atas ajakan admin Sahabat Gus Dur yang lain Amiruddin Faisal saya berangkat menuju Rembang. Datang di acara haul 40 hari peringatan wafatnya Nyai Siti Fatma, istri Gus Mus. Jam 2 siang saya sampai kesana dan dipandu Mas Jamal sampai di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Jl KH Bysri Mustofa 1-4, Leteh, Rembang. Sampai di tempat saya agak canggung, hal yang belum pernah saya lakukan. Saya sering membaca tentang kebijaksanaan - kebijaksanaan para kiai NU spt Gus Dur, Gus Mus, KH Hasyim Muzadi, Kyai Said Aqil Siraj dll tapi belum pernah sekalipun saya bertemu muka dengan mereka. Banyak pertanyaan muncul dalam pikiran saya, apakah mereka mau menerima saya, apakah mudah bertemu dengan salah satu tokoh terkenal di negeri ini. Tokoh yang bukan hanya menjadi teladan dalam ajaran agamanya tapi juga seorang budayawan dan penulis yang menjadi panutan banyak orang di negeri ini. Singkat kata, setelah saya sam