Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Skema Ponzi Penipuan Berkedok Investasi (Oleh : Ronny Leung)

Gambar
Beberapa waktu yang lalu kita mendapatkan informasi tentang investasi emas oleh PT CSI yang diharamkan oleh PBNU lewat rapat pleno 23 - 25 Juli 2016. Saya ingin memberikan informasi tambahan bagi saudara-saudara sekalian tentang skema- skema investasi seperti itu mulai dari sejarahnya di dunia, pergerakannya di Indonesia sampai penyelesaiannya. Agar kita sekalian lebih bijak dan arif dalam menerima ajakan, tawaran dan bujukan investasi - investasi seperti itu. "I landed in this country with $2.50 in cash and $1 million in hopes, and those hopes never left me," Ponzi (New York Times) Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi Memiliki 3 nama lain yaitu Charles Ponci, Carlo and Charles P. Bianchi. Lahir 3 Maret 1882 di Lugo, Italia. Meninggal 18 Januari 1949 di Rio De Jeneiro, Brazil adalah penemu skema Ponzi tahun 1920 di Amerika. Dia menjanjikan klien-kliennya keuntungan sebesar 50% dalam waktu 45 hari dan kembali modal dalam waktu 3 bulan. Dengan menjual IRC (

Terorisme (Oleh : Ronny Leung)

Gambar
Beberapa saat yang lalu kita mendapatkan berita tentang teroris Santoso yang telah dilumpuhan oleh Satgas Tinombala, ditembak mati oleh pasukan Kostrad. Banyak dari masyarakat yang bersyukur atas kejadian itu satu mata rantai jaringan teror di negeri ini telah diputus tapi juga ada sebagian kecil yang masih mendukung. Banyak alasan pro kontra. Beberapa organisasi besar kemasyarakatan di negeri ini mulai dari NU,Muhammadiyah dll  menggalakkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan cinta tanah air di seluruh pelosok negeri ini bahwa terorisme adalah suatu faham yang salah dan penanganannya lebih  ke arah preventif/pencegahan daripada penanggulangan karena disadari atau tidak baik korban dan pelaku adalah korban, korban dari propaganda salah karena banyak dari pelaku adalah anak-anak atau orang-orang yg mendapatkan doktrinasi salah tentang pemahaman agama dll. Dulu sebagian besar masyarakat menutup diri dan malu terhadap adanya terorisme ini tapi sekarang dengan bertumbuhnya kesadara

Mengkaji Ulang beberapa Konsep Keislaman sebagai Mukadimah Reformasi Keberagaman bagi Mengembalikan Keindahan Islam dan Indonesia (Oleh : KH Ahmad Mustofa Bisri)

Gambar
Sabtu (30/5) pagi kemarin, di gedung Multipurpose sedang berlangsung Rapat Senat Terbuka UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam rangka penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang kebudayaan Islam kepada Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Promotor penganugerahan ini, Prof Dr H Machasin MA dalam sambutannya menyatakan, pemikiran Gus Mus sejalan dengan visi dan misi UIN Yogyakarta karena berhasil merasuk dalam kehidupan umat dan membimbing manusia ke peradaban yang sesuai dengan martabat manusia.<> Gus Mus sendiri memberikan pidato ilmiahnya berjudul, “Mengkaji Ulang beberapa Konsep Keislaman sebagai Mukadimah Reformasi Keberagaman bagi Mengembalikan Keindahan Islam dan Indonesia”. Menurut Pengasuh PP Raudlatut Thalibin Rembang itu, umat Islam yang mayoritas bangsa Indonesia harus bertanggungjawab atas baik dan buruknya negara Indonesia. Acara penganugerahan itu dihadiri beberapa tokoh nasional seperti Ketua PP. Muhammadiyah Dr Din Syamsudin, Ketua PB

Cak Nun : Kafir dan Antek Yahudi (Oleh : Ridho Muhammad)

Gambar
Kafir dan Antek Yahudi. “ Wis anggaplah aku ini kafir fir... terus opo hak mu...? utowo hak wong liyo terhadap aku...? Iki menyangkut martabat manusia.... !!! Mengenai benar kafir tidak orang itu.... wilayahnya Alloh..... Urusan sesrawung antar manusia ... adalah ojo nuding-nuding wong,... itu merendahkan dan menyakiti hatinya.... Sedang di dalam Islam .... sangat dilarang menyakiti hati orang lain.... Wis anggaplah misalnya Gus Dur itu antek Yahudi.... terus kalian mau apa.....!!! Apakah kalian yakin .... bahwa saya muslim ...? Dari mana kalian tau saya muslim...? Kalau ternyata saya hanya akting...? Kalau darah saya halal.... wis gek ndang dipateni .... dan okeh sing kudu dipateni....!!! Alloh saja masih memiliki ruang .... barangsiapa mau beriman maka berimanlah.... barangsiapa mau kufur... silakan kufur....!!! . Maka.... kepada orang yang kita anggap sesat ... atau kufur.... mbok wis didongakke wae ... supaya diberi hidayah oleh Alloh... Jangan d

Berziarah Ke Makam KH Hasyim Asyari'i dan KH Abdurrahman wahid (Oleh:Ananto Pratikno)

Gambar
Berziarah ke Makam Pahlawan Nasional dan Presiden RI ke-4 di Tebuireng, Jombang - Jawa Timur Oleh : Ananto Pratikno Pada liburan lebaran 2012 yang lalu, jauh-jauh hari Mas Abiel sudah mengingatkan ayahnya bahwa dia sangat ingin ditemani berziarah ke makam Pahlawan Nasional, Mbah Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Wahid Hasyim, serta mantan Presiden Republik Indonesia ke-4, putra Kiai Wahid Hasyim, Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kompleks pemakaman ketiga tokoh kharismatik tersebut berada di dalam lingkungan pondok pesantren tebu ireng, Jombang - Jawa Timur. Dari rumah kakeknya Mas Abiel di Kota Mojokerto, Ponpes Tebuireng ini berjarak kurang lebih 30 kilometer saja. Suatu pagi yang cerah itu, selepas dhuha, setelah sarapan nasi pecel, Mas Abiel dan ayahnya meluncur ke Pondok Pesantren Tebuireng, memalui jalan alternatif. dimulai dari Surodinawan, Trowulan yang masih wilayah Mojokerto, kemudian masuk perbatasan Jombang di Curahmalang, Sumobito, Peterongan yang berdekatan d

Pancasila dan Islamisasi Regulasi (Oleh : Alamsyah M. Dja'far Peneliti The Wahid Institute)

Gambar
Pancasila dan Islamisasi Regulasi Alamsyah M. Dja'far * Apa yang mengemuka dalam diskusi dan bedah buku "Pancasila 1 Juni dan Syariat Islam" di Megawati Institute, Agustus silam menarik dicermati. Sekali lagi ini mengulang debat penting ihwal relasi agama-negara di Indonesia. Dalam diskusi, Sekretaris Majelis Syuro Front Pembela Islam (FPI) Muhsin Alatas yang menjadi salah seorang pembicara menegaskan, Pancasila dan UUD 1945 tak boleh dikultuskan. Karena produk manusia, Pancasila bahkan bisa ditinggalkan jika tak lagi relevan. Meski demikian diakuinya pula, Pancasila karya besar pendiri republik yang tetap relevan. Dalam tekanan berbeda, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto melontarkan hal senada. Sebagai seperangkat gagasan filosofis, Pancasila dinilainya ideal, namun tak mencukupi untuk mengatur masyarakat Indonesia. Problemnya, justru ada pada sistem yuridis di bawahnya. Dalam praktiknya, kata Ismail, Pancasila ini selalu dimaknai sesuai "

Islam dan Ruang Publik (Oleh : Alamsyah M. Dja'far Peneliti di The Wahid Institute)

Gambar
Islam dan Ruang Publik Alamsyah M. Dja'far* Suatu ketika di sebuah media online lokal, saya baca pernyataan seorang pejabat pemerintah di Kepulauan Seribu -kampung halaman saya. Intinya menghimbau warga pulau pemilik penginapan menyediakan perlengkapan ibadah. Sang pejabat lalu merujuk dan mencontohkan mukena, sajadah, dan kain sarung bersih. Selain meningkatkan kualitas layanan, penyediaan perlengkapan ibadah ini menurutnya sekaligus sebagai cara halus mengingatkan para wisatawan muslim agar tak lupa beribadah meski sedang berwisata. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu dibanjiri ribuan wisatawan. Mereka datang dari Jakarta, Bandung, Sumatera, bahkan luar negeri. Pulau Tidung misalnya. Pulau berpenduduk mayoritas muslim ini setiap minggunya dikunjungi rata-rata 1500 wisatawan yang tak semuanya muslim. Dari kunjungan itulah kesejahteraan masyarakat yang mayoritas nelayan ini terus bangkit. Sekilas, pernyataan pejabat di atas tampak wajar.

Penyesatan Keyakinan di Media (Oleh Alamsyah M. Dja'far, The Wahid Institute)

Gambar
Penyesatan Keyakinan di Media Oleh Alamsyah M. Dja'far* "Masalah agama itu terlalu kompleks dan kontroversial ," tulis Stewart M Hoover dalam Religion in the News: Faith and Journalism in American Public Discourse,tiga belas tahun silam. Dalam karya berisi kajian dan analisisnya mengenai liputan-liputan agama di media massa di Amerika berikut respon para pembaca terhadap liputan tersebut, Hoover juga menyebut empat kesulitan lain. Pertama, tren sekularisasi yang membuat liputan agama di media-media massa susut. Kedua, agama seringkali dianggap urusan pribadi (private). Ketiga, perkara agama juga sering berada di luar wilayah data empiris. Keempat, prinsip pemisahan agama-negara di Amerika mendesak agama agar selalu dipisahkan dari kehidupan publik masyarakatnya. Catatan penting profesor kajian media di Sekolah Jurnalisme dan Komunikasi Massa Universitas Colorado, Amerika Serikat, ini tampaknya masih relevan dengan apa yang dihadapi para jurnalis dan lembaga media m

Merespons Konflik Berbasis Agama (Oleh : Rumadi, Peneliti Senior Wahid Institute)

Gambar
Merespons Konflik Berbasis Agama Rumadi Komisi IX DPR sedang membahas Rancangan Undang-Undang Penanganan Konflik Sosial, di mana dalam naskah akademiknya, agama dipandang sebagai salah satu sumber konflik sosial. Konflik sosial, termasuk konflik bernuansa agama, merupakan kenyataan yang pernah dan mungkin akan terus terjadi di Indonesia. Namun, pemerintah (dan juga agamawan) enggan mengakui kenyataan tersebut. Meski di sejumlah tempat, seperti Ambon dan Poso, pernah terjadi konflik bernuansa agama yang begitu kental, para pejabat pemerintah lebih senang menyatakan sebagai konflik sosial biasa, tak ada hubungan dengan agama. Kalau toh semangat keagamaan ada dalam konflik, itu sering dianggap penyebab sekunder atau agama hanya dijadikan kamuflase konflik yang sebenarnya, seperti konflik perebutan sumber daya ekonomi dan politik. Bahkan, tindakan terorisme yang jelas-jelas menggunakan spirit agama juga tak diakui sebagai persoalan agama. Kalau toh terorisme dianggap terkait agama,

Tegakkan HAM aja kok repot! (Oleh : USMAN HAMID)

Gambar
Tegakkan HAM aja kok repot! USMAN HAMID Pada 31 Desember ini tepat dua tahun wafatnya KH Abdurrahman Wahid (1940-2009), sosok ulama sekaligus intelektual aktivis yang menjadi Presiden Republik Indonesia, Oktober 1999-Juli 2001. Apa sumbangsih pemerintahannya terhadap HAM? Berkembangkah penegakan HAM sesudahnya, misalnya pemerintahan SBY sekarang? Refleksi komparatif yang utuh tentu tak mudah. Hanya memetik relevansi praksis kepemimpinan Wahid untuk meneropong situasi HAM sekarang. Pertama, Gus Dur adalah sosok pemimpin pembela rakyat marjinal, miskin hingga minoritas etnis dan agama yang dikurangi hak-haknya untuk berkeyakinan, beragama dan mendirikan rumah ibadah. Persis masalah-masalah inilah yang sekarang mengalami kemerosotan. Kedua, permasalahan HAM sekarang berakar dari tidak tuntasnya koreksi warisan kejahatan pemerintahan Suharto oleh pemerintahan transisi Wahid, Megawati dan SBY. Pengalaman pemerintah transisi hampir selalu dilematis untuk mengakui warisan kejahatan